Senin, 19 September 2016

Teori Belajar Matematiaka Menurut Dienes pada Anak SD

Dienes merupakan guru matematika di Hongaria, Inggris, dan Prancis yang mempunyai minat untuk megubah pembelajaran matematika menjadi mudah dan menarik. Dasar teorinya beberapa didasarkan dari teori Peaget. Ia sependapat dengan Peaget yangmana anak akan mudah mengerti akan sebuah konsep pembelajaran jika diwujudkan dalam kekonkritan.

Menurut Dienes kesiapan anak dalam proses menerima konsep dalam pembelajaran dapat dipercepat dengan memahami konsep murni, notasi, dan konsep terapan secara berurutan. Konsep murni yaitu ide-ide mengenai pengelompokan bilangan atau relasi antar bilangan, contohnya anak mampu memahami deretan bilangan ganjil dan genap. Konsep notasi yaitu sifat bilangan saat bilangan itu disajikan, siswa mampu memahami dan menuliskan bentuk notasi dari suatu bilangan. Konsep terapan merupakan penyelesaian dari bentuk persoalan matematika dengan menggunakan konsep murni dan notasi, seperti menyelesaikan persoalan matematika (contoh: penjumlahan).

Ia mempunyai pendapat mengenai tahap belajar anak, yakni melalui 6 fase.
1.      Tahap Bermain Bebas (free play)
Pada tahap ini anak bermain dengan benda-benda matematika yang konkret tanpa adanya pengarahan dan tujuan, fungsinya untuk mengenalkan konsep matematika ke anak dengan bermain benda konkret. Guru hanya menyediakan sarana dan memantau.
Contoh: Guru dapat memberikan permainan menghitung sambil bernyanyi, guru mencoba membiasakan anak dalam memahami deretan bilangan.

2.      Tahap Permainan (games)
Pada tahap ini hampir sama dengan tahap free play hanya saja kegiatan ini lebih terarah dan mempunyai tujuan jelas yakni belajar memahami lebih suatu konsep matematika dalam permainan.
Contoh: Anak dapat bermain secara berkelompok membentuk barisan untuk berhitung, barisan maju mundur mengenlkan ganjil genap, dan dapat membentuk formasi bentuk bangun.


3.      Tahap Pengelompokan Sifat
Pada tahap ini siswa belajar memahami petunjuk dari konsep yang menjelaskan ciri khasnya dan mampu membedakannya dengan konsep lainnya.
Contoh: Guru dapat menjelaskan ciri-ciri bangun segitiga, lalu guru meletakkan segala jenis benda yang berbentuk segitiga dikelas dan siswa mencarinya. (Segitiga dari kayu, kawat, penggaris plastik, dll.)

4.      Representasi
Pada tahap ini siswa sudah mampu menyatakan dengan sendiri dari ciri setiap konsep dengan gambar, diagram, atau verbal (ucapan).
Contoh: Guru dapat menyediakan gambar atau diagram, lalu siswa dapat diminta untuk menjelaskan tentang gambar atau diagram tersebut menurut pengalaman belajarnya, guru harus memantau sampai selesai dan membenarkan bila salah.

5.      Simbolisasi
Siswa perlu mengenal dan memahami simbol dari konsep yang sudah ia kuasai secara mendasar pada tahap sebelumnya.
Contoh: Guru dapat bermain mencocokkan simbol dengan artinya, akan tetapi siswa sebelumnya sudah diberi informasi sebelumnya dan permainan ini hanya untuk bahan evauasi sambil bermain.

6.      Formalisasi
Pada tahap ini anak mampu mengaitkan hubungan konsep satu dengan konsep lainnya, secara diluar kepala sudah paham tentang hubungan konsep. Akan tetapi Dienes berpendapat anak usia SD tidak menjangkau tahap terakhir ini, jadi tidak menjadi target dalam pembelajaran.



Sumber:Karso, dkk. Pendidikan Matematika I. Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar