Ilmu Anak PGSD
Sabtu, 05 November 2016
Rabu, 21 September 2016
Materi Pendidikan Agama Islam Kelas 2 Kurikulum 2013
Pelajaran 1 : Nabi Muhammad SAW. Teladanku
A. Sikap Jujur Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad saw. terkenal jujur
dalam setiap perkataan dan perbuatannya.
Dengan kejujurannya, beliau mendapat gelar al-Amīn.
Sejak kecil, Nabi Muhammad saw.
memiliki sifat jujur.
Beliau dikenal sebagai
pedagang yang jujur, juga sebagai
pemimpin yang jujur.
Nabi Muhammad saw. menyuruh kita
selalu bersikap jujur.
Jujur kepada Allah, kepada diri sendiri,
kepada orang tua, guru, dan semua orang.
Maka kita harus berusaha mengikuti beliau "Harus berkata dan berbuat Jujur"
B. Keuntungan Bersikap Jujur
Orang jujur disayang Allah,
disenangi orangtua dan guru,
dan punya banyak teman.
Jujur akan membawa kebaikan.
Sumber: Buku Siswa PAI kelas 2 K.13
A. Sikap Jujur Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad saw. terkenal jujur
dalam setiap perkataan dan perbuatannya.
Dengan kejujurannya, beliau mendapat gelar al-Amīn.
Sejak kecil, Nabi Muhammad saw.
memiliki sifat jujur.
Beliau dikenal sebagai
pedagang yang jujur, juga sebagai
pemimpin yang jujur.
Nabi Muhammad saw. menyuruh kita
selalu bersikap jujur.
Jujur kepada Allah, kepada diri sendiri,
kepada orang tua, guru, dan semua orang.
Maka kita harus berusaha mengikuti beliau "Harus berkata dan berbuat Jujur"
B. Keuntungan Bersikap Jujur
Orang jujur disayang Allah,
disenangi orangtua dan guru,
dan punya banyak teman.
Jujur akan membawa kebaikan.
Sumber: Buku Siswa PAI kelas 2 K.13
Senin, 19 September 2016
Teori Belajar Matematiaka Menurut Dienes pada Anak SD
Dienes merupakan guru
matematika di Hongaria, Inggris, dan Prancis yang mempunyai minat untuk megubah
pembelajaran matematika menjadi mudah dan menarik. Dasar teorinya beberapa
didasarkan dari teori Peaget. Ia sependapat dengan Peaget yangmana anak akan
mudah mengerti akan sebuah konsep pembelajaran jika diwujudkan dalam
kekonkritan.
Menurut Dienes kesiapan
anak dalam proses menerima konsep dalam pembelajaran dapat dipercepat dengan
memahami konsep murni, notasi, dan konsep terapan secara berurutan. Konsep
murni yaitu ide-ide mengenai pengelompokan bilangan atau relasi antar bilangan,
contohnya anak mampu memahami deretan bilangan ganjil dan genap. Konsep notasi
yaitu sifat bilangan saat bilangan itu disajikan, siswa mampu memahami dan
menuliskan bentuk notasi dari suatu bilangan. Konsep terapan merupakan
penyelesaian dari bentuk persoalan matematika dengan menggunakan konsep murni
dan notasi, seperti menyelesaikan persoalan matematika (contoh: penjumlahan).
Ia mempunyai pendapat
mengenai tahap belajar anak, yakni melalui 6 fase.
1.
Tahap Bermain
Bebas (free play)
Pada tahap ini anak bermain dengan benda-benda
matematika yang konkret tanpa adanya pengarahan dan tujuan, fungsinya untuk
mengenalkan konsep matematika ke anak dengan bermain benda konkret. Guru hanya
menyediakan sarana dan memantau.
Contoh: Guru dapat memberikan permainan menghitung
sambil bernyanyi, guru mencoba membiasakan anak dalam memahami deretan
bilangan.
2.
Tahap Permainan
(games)
Pada tahap ini hampir sama dengan tahap free play
hanya saja kegiatan ini lebih terarah dan mempunyai tujuan jelas yakni belajar
memahami lebih suatu konsep matematika dalam permainan.
Contoh: Anak dapat bermain secara berkelompok
membentuk barisan untuk berhitung, barisan maju mundur mengenlkan ganjil genap,
dan dapat membentuk formasi bentuk bangun.
3.
Tahap
Pengelompokan Sifat
Pada tahap ini siswa belajar memahami petunjuk dari
konsep yang menjelaskan ciri khasnya dan mampu membedakannya dengan konsep
lainnya.
Contoh: Guru dapat menjelaskan ciri-ciri bangun
segitiga, lalu guru meletakkan segala jenis benda yang berbentuk segitiga
dikelas dan siswa mencarinya. (Segitiga dari kayu, kawat, penggaris plastik,
dll.)
4.
Representasi
Pada tahap ini siswa sudah mampu menyatakan dengan
sendiri dari ciri setiap konsep dengan gambar, diagram, atau verbal (ucapan).
Contoh: Guru dapat menyediakan gambar atau diagram,
lalu siswa dapat diminta untuk menjelaskan tentang gambar atau diagram tersebut
menurut pengalaman belajarnya, guru harus memantau sampai selesai dan
membenarkan bila salah.
5.
Simbolisasi
Siswa perlu mengenal dan memahami simbol dari konsep
yang sudah ia kuasai secara mendasar pada tahap sebelumnya.
Contoh: Guru dapat bermain mencocokkan simbol dengan
artinya, akan tetapi siswa sebelumnya sudah diberi informasi sebelumnya dan
permainan ini hanya untuk bahan evauasi sambil bermain.
6.
Formalisasi
Pada tahap ini anak mampu mengaitkan hubungan konsep
satu dengan konsep lainnya, secara diluar kepala sudah paham tentang hubungan
konsep. Akan tetapi Dienes berpendapat anak usia SD tidak menjangkau tahap
terakhir ini, jadi tidak menjadi target dalam pembelajaran.
Sumber:Karso, dkk. Pendidikan Matematika I.
Universitas Terbuka.
Langganan:
Postingan (Atom)